KAB. GORONTALO

Nelson : Penyebab Konflik Secara Global Bagi Negara-Negara Islam Adalah Pemahaman Agama dan Lingkungan

M-BhargoNews, (Kota Gorontalo), – Bupati Kabupaten Gorontalo, Prof.Dr.Ir.H. Nelson Pomalingo, M.Pd, mengungkapkan penyebab terjadinya konflik secara global terutama negara-negara Islam adalah pemahaman terhadap agama dan pemahaman lingkungan itu sendiri, hal ini disampaikan saat memberikan materi pada Kegiatan Rapat Kerja Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sultan Amai Gorontalo Tahun 2020 dengan Tema “Transformasi Kelembagaan: Meneguhkan Moderasi Beragama, Menuju Indonesia Maju” di Maqna Hotel, Kota Gorontalo, Sabtu, (14/03/2020).

“Kita bisa melihat secara global kondisi dunia ini ternyata salah satu terjadi pertikaian, peperangan diantara negara-negara islam yang peradaban islamnya luar biasa, seperti, Irak, Miyanmar, itu adalah tentang agama dan tentang pemahaman lingkungan yang radikalisme.” katanya.

Nelson menyebutkan, padahal ini adalah negara islam, pertanyaannya apakah islam yang yang salah? Indonesia kita bisa lihat terjadinya radikalisme terorisme, salah satu tempat yang bisa terjadi penumpukan radikalisme dan terorisme termasuk di Gorontalo.

“Saya kemarin ketemu kapolda Gorontalo, salah satu tempat yang bisa terjadi penumpukan radikalisme dan terorisme termasuk Gorontalo karena mungkin keramahan, keterbukaan kita. Selain itu, dilihat dari segi geografis, ini termasuk agak rawan karena bersebrangan dengan Filipina, mindanao, ini yang beliau sampaikan, untuk perhatian kita semua,” tutur Nelson.

Nelson berharap untuk para pelajar dan mahasiswa ini adalah orang orang yang insya allah menjadi pemimpin masa depan. Dan ini tantangan bagi IAIN transformasi IAIN harus melihat kondisi serta bagaimana tantangan-tantangan ini harus di atasi.

“Sebab kalau tidak misalnya agama jadi penyebab radikalisme itu berarti salah satu yang harus bertanggungjawab itu adalah IAIN, karena melahirkan keilmuan keilmuan dan keagamaan yang ada.” ucapnya.

Lebih lanjut Nelson mengatakan bahwa Inilah tantangan yang kita hadapi secara global, asia maupun indonesia. Jadi, moderasi beragama menjadi tuntutan bagi pendidikan tinggi umum antara lain dengan cara memasukan materi keagamaan ke dalam kurikulum untuk menghasilkan perilaku sivitas akademik yang moderat.

“Moderasi itu jalan tengah bukan berarti abu-abu atau tidak ada pilihan, justru kita harus mendorong yang normal karena keberagaman Indonesia harus di terima, tidak boleh ditolak.” terang Nelson. (SD)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close