KABAR BHAYANGKARA

Hikmah Hari Ke Delapan:Berpuasa Adalah Jalan Membebaskan Jiwa Dari Bencana Dunia Dan Hukuman Akhirat.

M-BhargoNews.-Puasa pada hakikatnya adalah sebuah proses pembebasan jiwa dari penjara jasmaniah akibat kecenderungan yang kuat dalam memperturutkan hasrat instingtif pada kesenangan material-duniawi.

Membebaskan jiwa menjadi penting untuk mengembalikan jiwa pada kesejatiannya sebagai entitas yang akan menghadap Tuhannya dengan tenang (nafs muthmainnah).

Imam Ja’far Shadiq menjelaskan tentang hakekat puasa,: “jika kamu berpuasa, maka berniatlah menahan dirimu dari nafsu-nafsu jasmaniah dan memutuskan hasrat-hasrat duniawi yang muncul dari setan dan kawan-kawannya”.

Awal dari bencana dunia dan hukuman akhirat adalah keserakahan yang menguasai diri hingga membuat jiwa kita terikat dan terbelenggu pada ikatan-ikatan materi duniawi.

Hal ini membuat keterlenaan kita pada kesenangan jasmaniah yang melalaikan jiwa dari kefitriannya yang selalu merindu pada Tuhannya. Akhirnya ternodalah hati dengan keserakahan, serta terkotorilah akal dengan hawa nafsu yang terus-terusan mencari pembenaran.

Walhasil, bencana dunia dan hukuman akherat pun tak terelakkan. Karena jiwa sejatinya berhasrat untuk kembali pada fitrahnya yang azali namun kita membawanya pada kefanaan materi duniawi.

Inilah awal dari bencana itu dan inilah permulaan dari hukuman itu. Berpuasa adalah jalan membebaskan jiwa dari bencana dunia dan hukuman akhirat .

Sebagaimana sabda Nabi saw, “Puasa adalah perlindungan dari bencana dunia dan selubung dari hukuman akherat”.
Sayyidina Ali bin Abu Thalib bersabda, “Medan pertama yang harus kamu hadapi adalah nafsumu sendiri. Jika kamu menang atasnya maka terhadap yang lainnya kamu lebih menang. Dan jika kamu kalah dengannya maka terhadap yang lainnya kamu lebih kalah. Karena itu, cobalah kamu berjuang melawannya dahulu”.

Tidak ada pergulatan yang paling berat bagi Manusia, selain pergulatan melawan dirinya sendiri.Pergulatan tersebut adalah pergulatan dalam diri antara akal melawan nafsu. Nafsu bukanlah sesuatu yang buruk, karena tanpa nafsu, manusia tak akan pernah tumbuh dan berkembang.

Ibarat Sebuah Delman, Nafsu adalah kuda yang menarik delman, tanpa Kuda, Delman tersebut tak akan berjalan, namun kuda tersebut harus ada sais yang mengarahkan agar kuda tersebut tidak keluar dari jalannya, dan sais tersebut ibarat akal yang mengarahkan hawa nafsu untuk tetap pada jalannya serta mengendalikan hawa nafsu agar tak keluar dari jalurnya.

Hasil pergulatan antara akal dan nafsu inilah yang akan menentukan kebahagiaan atau kesengsaraan manusia di dunia dan akhirat.

Manusia dalam pergulatan ini terbagi dalam dua kelompok, kelompok takwa dan kelompok fasik. Takwa merupakan capaian kemenangan akal atas hawa nafsu, sebaliknya fasik adalah orang-orang yang hawa nafsunya menguasai akalnya.

Sebagaimana ditegaskan oleh Sayyidina Ali bin Abi Thalib, “barangsiapa akalnya mengalahkan hawa nafsunya ia akan beruntung, dan barangsiapa yang hawa nafsunya mengalahkan akalnya, ia akan celaka”.

Oleh karena berat dan pentingnya pergulatan ini, hingga Rasulullah menyebutnya sebagai jihad akbar dan pergulatan ini senantiasa terjadi di mana pun dan kapan pun sepanjang hela nafas manusia.

Maka disyariatkanlah puasa sebagai sarana latihan menundukkan dan menguasai hawa nafsu sehingga ia bisa tunduk untuk dikendalikan dan diarahkan menuju ketaqwaan sehingga membawa manusia kepada kebaikan, Tujuan dari mengalahkan hawa nafsu dari pergulatan akbar tersebut, bukanlah hendak mematikan atau mengekang hawa nafsu secara tetap, melainkan mengendalikan hawa nafsu, atau lebih tepatnya mencerdaskan hawa nafsu di bawah kendali akal sebagai imam.

 

Sayyed Husein Nasr menulis, bahwa aspek paling sulit dari puasa adalah ujung pedang pengendalian diri yang diarahkan pada jiwa hewani. Dalam puasa kecenderungan jiwa hewani untuk memberontak, perlahan-lahan dijinakkan melalui penaklukkan kecenderungan tersebut secara sistematis dengan mentaati perintah Ilahi melalui menahan lapar, dahaga, nafsu seksual, dan gejolak amarah. Setelah hawa nafsu dijinakkan, maka mudahlah bagi akal kita untuk mengendalikan dan menuntunnya kepada jalan kebenaran.

Menurut Imam Ja’far Shadiq, “Puasa membunuh hasrat diri dan nafsu keserakahan dan dari situ timbul kesucian hati, kebersihan anggota-anggota badan, pengolahan jiwa dan raga, rasa syukur atas segala rahmat yang diberikan, sedekah untuk kaum miskin, meningkatnya pengharapan yang terungkap dari kerendahan hati, kesederhanaan, penyesalan, dan selalu menyandarkan diri pada perlindungan kepada Allah swt. dan ini adalah jalan tuk patahkan egoisme diri, meringankan hal-hal yang buruk, dan melipatgandakan kebaikan”.

Maka dengan keterjagaan diri dari belitan obsesi ego pada hasrat-hasrat duniawi berarti kita telah mempersiapkan jiwa pada pembebasannya yang hakiki.
Inilah puasa yang “menuhan”, bukan sekadar puasa yang menahan, puasa yang mengantar diri untuk kembali pada fitrahnya yang suci laksana bayi yang baru saja menggenggam perjanjian

“Alastu Birabbkum, qalu Bala Syahidna”, (Benarkah Aku Tuhanmu, Benar kami menyaksikan Engkau Tuhan kami).

Oleh: DR Sabara Nuruddin (Peneliti Balai Litbang Agama Makassar).

 

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close